Pengabdian Masyarakat Poltekkes Malang Kampus Ponorogo: Inovasi Skrining Kaki Diabetik Lebih Nyaman dan Efektif di Desa Kutuwetan Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo

PONOROGO — Dosen dan mahasiswa Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang (Poltekkes Malang) Kampus Ponorogo baru-baru ini sukses menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PengabMas) yang berfokus pada kesehatan penderita diabetes. Dengan mengusung tema “Pendampingan Skrining Kaki Diabetik dan Pengukuran Ankle Brachial Index (ABI) Diabetesi”, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan deteksi dini komplikasi kaki diabetik di tingkat desa. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, yaitu pada tanggal 16, 17, dan 20 Oktober 2025.

Kegiatan PengabMas yang vital ini dilaksanakan di Desa Kutuwetan, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo. Selama tiga hari pelaksanaannya, tim pengabdi dari Program Studi D3 Keperawatan Poltekkes Malang Kampus Ponorogo berhasil menjangkau dan melayani 112 warga setempat, termasuk anggota kader kesehatan yang tergabung dalam kelompok “SIMANIS”. Partisipasi yang tinggi ini menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap upaya pencegahan dan pengelolaan diabetes.

Inovasi menjadi poin utama dalam kegiatan pengabdian tahun ini. Tim PkM memperkenalkan dan mendampingi metode Skrining Kaki Diabetik versi sederhana yang merupakan pengembangan dari Inlow 60 Second Diabetic Foot Screen. Versi yang disederhanakan ini dirancang agar lebih ringkas dan mudah dipahami, menjadikannya alat skrining yang efektif dan cepat digunakan oleh tenaga kesehatan dan kader di fasilitas kesehatan primer.

Pengembangan metode baru ini lahir sebagai jawaban atas sejumlah kendala yang dihadapi pada pelaksanaan PkM di tahun sebelumnya, terutama yang berkaitan dengan metode pemeriksaan Ankle Brachial Index (ABI). Metode ABI yang kompleks sering kali menimbulkan keluhan nyeri pada warga saat penensiian kaki, memunculkan kekhawatiran dalam memilih pasien yang aman untuk diperiksa, serta prosedur yang rumit dan memakan waktu, yang pada akhirnya menyebabkan penumpukan antrian di lokasi pelayanan. Skrining versi sederhana ini berhasil meminimalisir risiko ketidaknyamanan tersebut.

Lebih dari sekadar layanan pemeriksaan kesehatan gratis, program pengabdian ini juga memiliki fokus kuat pada peningkatan keterampilan kader kesehatan. Kader desa dilatih secara intensif dalam menggunakan metode skrining kaki diabetik yang baru. Mereka diharapkan dapat menjadi ujung tombak pelayanan diabetes dan perpanjangan tangan Poltekkes Malang dalam menjaga keberlanjutan program kesehatan masyarakat di tingkat desa, memastikan skrining komplikasi diabetes dapat terus dilakukan secara mandiri.

Kesuksesan kegiatan Pendampingan Skrining Kaki Diabetik dan Pengukuran Ankle Brachial Index (ABI) Diabetesi ini menegaskan komitmen Poltekkes Malang Kampus Ponorogo dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Dengan inovasi dan transfer ilmu kepada kader, diharapkan angka komplikasi akibat diabetes, khususnya luka dan amputasi kaki diabetik, dapat ditekan secara signifikan di Desa Kutuwetan dan wilayah sekitarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *